Minggu, 29 Januari 2012

Menukar Uang Lama



Aku punya uang lama. Uang 100 ribu dari plastik. Tidak banyak, cuma satu. Oleh Omku yang bekerja di BRI, aku disarankan untuk jangan menukarnya, untuk koleksi saja, siapa tahu bisa berharga mahal beberapa tahun lagi. Tapi aku tidak punya minat untuk mengkoleksinya. Akhirnya kuputuskan untuk menukarnya di Bank Indonesia Jogja. Tempatnya di daerah sekitar Malioboro, satu komplek dengan kantor pos.

Aku perlu tiga kali mencoba untuk sukses menukar uang. Pada kedatanganku yang pertama, saat bulan puasa tahun 2011, seminggu sebelum lebaran, aku ditolak ketika akan menukarkan uang. Karena aku datang jam satu, satpamnya mengatakan jadwal menukar uang hanya sampai jam 11 siang.

Pada kedatanganku yang kedua, jumat 20 Januari 2012, aku sudah masuk ke dalam gedung setelah melewati pintu kaca yang bisa membuka dan menutup secara otomatis. Ruangannya besar dan luas sekali, sepertinya empat bis bisa dimasukkan dalamnya. Lantainya dari marmer dengan motif titik-titik hitam dan putih seperti gambar semut berantem ketika TV tidak ada sinyal. Kuhampiri meja informasi di sebelah kanan pintu masuk. Lalu bertanya pada bapak resepsionis, ternyata kalau menukar uang lama jadwalnya senin sampai kamis jam 08.00-11.30. Oleh bapak itu aku disarankan kembali hari selasa minggu depan.

Hari selasa 24 Januari 2012 aku datang jam 09.12. Aku mengambil nomor antrian di mesin antrian. Lalu duduk menunggu nomernya dipanggil. Saat itu suasananya sepi sekali, tidak ada pengunjung yang lain. Hemm kupikir sebaiknya jauh hari saja kita menukar uang agar saat lebaran sudah punya simpanan uang baru yang akan dibagikan. Jadi tidak repot antri saat bulan puasa atau tidak perlu menukar uang di jasa tukar uang yang meminta komisi 10% dari jumlah yang ditukar. Yah tapi ada orang yang rejekinya dari jasa seperti itu, dan bisa membantu orang lain yang tidak punya waktu.

Tidak berapa lama nomerku dipanggil untuk datang ke loket 5. Sampai di loket 5, aku dilayani seorang bapak, yang menukar uangku dengan uang seratus ribu baru berwarna merah bergambar Soekarno-Hatta. Akhirnya sukses juga penukaran uangnya. Teman-teman yang masih punya uang 100 ribu dari plastik silakan ditukarkan di BI, batas waktunya sampai tanggal 30 Desember 2018(untuk lebih lengkapnya silakan klik ini). Atau kalau mau untung silakan tunggu 200 tahun lagi, pasti sudah langka dan menjadi buruan kolektor. Dijamin harganya pasti berkali-kali lipat dari nilai sebenarnya hehe J.

Minggu, 09 Oktober 2011

MADRE

Gambar diambil dari gramediaonline.com

Dosenku Statistik Multivariat bertanya pada awal kuliahnya, “Ada yang sudah membaca buku ini?” Ia mengacungkan buku berwarna coklat dengan gambar anak kunci di sampulnya. Di situ tertulis Madre sebagai judulnya. Samar-samar aku tahu buku itu. Aku pernah melihatnya di Gramedia 3 hari yang lalu. Buku terbaru karya Dewi Lestari, yang dikenal dengan nama pena Dee.

April, teman yang duduk di sebelahku berkata, “ Saya sudah Pak. Soalnya saya harus mereview buku itu, menjadi tugas mata kuliah Pengantar Teknik Industri.”

Aku jadi penasaran ingin membaca Madre. Maka kupinjam buku itu dari temanku. Akhirnya Madre menjadi buku pertama karya Dee yang kubaca.

Madre adalah buku kumpulan cerita. Madre adalah judul cerita pertamanya. Yang paling panjang ceritanya, hampir setengah dari total halaman buku tersebut. Sekaligus yang paling menarik. Kisahnya mengenai seseorang bernama Tansen yang mendapatkan warisan setoples ragi berumur puluhan tahun. Madre adalah nama setoples ragi tersebut. Dengan Madre, Tansen berjuang membangkitkan kembali sebuah toko roti kuno yang telah lama mati. Pada awalnya proses pembuatan roti masih tradisional dan manual. Kemudian diubah menjadi modern dengan adanya pembagian shift, pemilihan SDM, perencanaan produksi, inovasi. Dan ada istilah industri seperti PO(Purchase Order) yang digunakan dalam cerita ini. Tak heran Madre menjadi tugas mata kuliah Pengantar Teknik Industri.

Dari satu cerita saja aku bisa melihat kepiawaian Dee dalam menulis. Ia berhasil memancing keingintahuan pembaca sejak paragraf pertama. Istilah-istilah yang ia gunakan dalam cerita juga pas, bisa dipastikan ia melakukan riset mendalam dalam menulis. Hal-hal yang sebetulnya rumit bisa dijelaskan dengan ringan oleh Dee. Aku jadi ingin membaca karya Dee yang lain. Hemm..Supernova.

Senin, 07 Maret 2011

Terima Kasih dan Ya

Terima kasih untuk-Nya dan semuanya

Atas semuanya

Baik yang terlihat maupun tidak terlihat

yang kukenal maupun tak kukenal

dan bahkan takkan pernah kukenal

yang terucap maupun tidak terucap

yang tertulis maupun tidak tertulis

terima kasih

dan Ya untuk yang

akan terlaksana

rencana-Mu

Tuhan Yesus Kristus

AMIN

Minggu, 06 Maret 2011

Manis Senyum

Kau tahu manis
senyummu
Tuhan yang menulis
dengan amat puitis
dan aku suka membacanya
pelan-pelan
kata demi kata
baris demi baris

:)

Tuhan Menyapa

Tuhan menyapa
Dengan sentuhan
Lewat semilir angin dingin iringi
Mendung kelabu

Tuhan menyapa
Lewat bau
Tanah basah
hujan yang turun

Usai hujan
Mendung tersaput
Langit cerah

Dan Ia terus menyapa
Lewat terang purnama bundar
Bulan puitis merah jambu

Ia genit sekali
Karena terus mengedipkan mata ;)
Lewat kerlip kemerlip bintang gemintang angkasa raya

Sadarkah kita

Tuhan sungguh cinta
Lewat pertanda
kita disapa selalu
*Suatu malam sehabis hujan dan halo bulan muncul seusainya, 27 Mei 2010 23.00

Tips Buat Pantun

Kau tahu kawan mengapa blogku ini kuberi judul "Jaka Sembung Tukang Pantun"? Sebabnya adalah sederhana karena aku suka berpantun huehehe. Kata teman-teman pantunku bagus-bagus. Antara sampiran dan isinya nyambung dan merdu bunyinya. Kurasa hal itu dikarenakan ak memiliki kepekaan dalam merasakan rima—perulangan bunyi yang sama dalam puisi yang berguna untuk menambah keindahan suatu puisi—dan aku bersyukur pada Tuhan untuk bakat itu. Salah satu dari ungkapan syukurku, aku ingin membagikan tips untuk membuat pantun. Menurutku pantun itu seperti matematika: ada rumus-rumus yang harus diketahui dan dipatuhi bila ingin pantunnya nyambung antara bagian sampiran dan isinya, indah rimanya dan berkesan bagi penikmatnya.

Sebelumnya kita harus tahu apa itu pantun. Pantun adalah salah satu jenis dari puisi lama di Indonesia. Biasanya pantun terdiri dari 4 baris, bersajak (berima) akhir dengan pola a-b-a-b. Setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata. 2 baris pertama disebut sampiran, sedangkan 2 baris terakhir disebut isi. Selain itu ada juga Pantun Kilat atau Karmina, disebut Pantun Kilat karena hanya terdiri 2 baris. Baris pertama adalah sampiran, sedangkan baris kedua adalah isi. Untuk aturan sajak dan jumlah baris sama saja dengan Pantun.

Nah, sesudah kita tahu definisi dari pantun. Kita bisa membuat pantun dengan mematuhi aturan (rumus) yang ada. Berikut ini langkah-langkah yang biasa kulakukan ketika membuat pantun:

  • 1. Pertama-tama kita buat isinya dulu, pantun tersebut bertujuan untuk menyampaikan pesan apa. Misal: untuk membuka suatu pidato. Agar suasana tidak terlalu tegang. Saya akan membuat isi pantun sebagai berikut:

Saya Agung akan pidato.

Mohon perhatiannya teman-teman.

  • 2. Lalu kita periksa sajak dan jumlah suku katanya. Sajaknya harus berbentuk a-b dan suku katanya harus diantara 8-12 suku kata.

Sa-ya A-gung a-kan pi-da-to.

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Mo-hon per-ha-ti-an-nya te-man-te-man.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

  • 3. Kita buat sampirannya. Kita buat pas sajak akhir sampiran dengan sajak akhir bagian isi sebelumnya. Sajaknya harus berbentuk a-b dan suku katanya harus diantara 8-12 suku kata.

Ja-ka Sem-bung ma-kan so-to.

1 2 3 4 5 6 7 8

E-nak se-ka-li di se-bu-ah ta-man.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

  • 4. Kalau bisa disempurnakan, sajak akhir pada kata kedua pada bagian sampiran kita buat sama juga dengan sajak akhir bagian isi. Sehingga sampirannya saya ubah jadi begini:

Jaka Sembung makan soto.

Di bawah pohon di sebuah taman.

  • 5. Kita gabung antara sampiran dan isinya. Lalu kita tulis kemudian baca pelan-pelan dan berulang-ulang, untuk merasakan rima, dan keindahannya. Sudah indah dan tepatkah rimanya. Bila belum dan bisa diperbaiki, kita cari kata-kata lain sehingga bisa menimbulkan rima yang lebih tepat dan indah.

Jaka Sembung makan soto.

Di bawah pohon di sebuah taman

Saya Agung akan pidato.

Mohon perhatiannya teman-teman.

Langkah-langkah yang saya sebutkan di atas bukan langkah-langkah baku. Kadang-kadang saya menemukan kalimat bagus yang amat berkesan yang saya jadikan sampirannya dulu, baru saya buat isinya. Bila rimanya belum pas, saya ubah-ubah lagi antara sampiran dan isinya. Kembali lagi bahwa pantun seperti matematika tapi tidak persis sama sekali. Perasaan—Feeling—amat berperan besar maka banyak-banyaklah membuat pantun maka perasaan tersebut akan semakin tajam.

Sekian tips dari saya. Semoga berguna dalam membuat pantun dalam berbagai kesempatan (^^)v.




Selasa, 14 Desember 2010

Joging, Bintang dan Ibu

Kupakai sepatu, bersiap untuk joging alias lari-lari. Tetapi pagi ini bukan joging yang biasa. Kutambahi beban pada kakiku. Alasannya seh bukan biar tambah tinggi lompatannya. Sudah lewat masa keemasanku sebagai pemain basket (nggaya tenan iq). Padahal mentoknya seh cuma atlet tingkat sekolah sudah begitu lokal lagi dan sering jadi cadangan..jyahaha. Kok jadi ngelantur. Kembali ke cerita. Alasannya buat tambah keringat. Mau nambah jarak tempuh—malas nambah waktunya. Maka kuputuskan menambah beban saja.

Setelah pemanasan secukupnya, ak berangkat jam 5 tepat seperti biasa. Pagi ini ak lewat rute favoritku. Jarak tempuhnya paling 2km. 1km lari dan 1km jalan sekalian pendinginan. Itu butuh waktu biasanya ½ jam-an. Pada mulanya berat. Belum terbiasa dengan tambahan bebannya. Kupaksakan juga, ndak papa nanti juga biasa. Kuandalkan semangatku meski dengan agak terhuyung-huyung, berhasil sampai ke tempat ak mulai jalan biasanya. Lalu ak lanjutkan tuk jalan. Kurasakan keringat mengalir deras. YESS!. Suksesss tambah keringatnya. Ak jalan pelan-pelan. Merasakan keringat mengalir sambil melihat mentari samar-samar muncul dari timur. Sensasi yg luar biasa. Beban tidak terasa dan badan seakan melayang. Wah hebat, ada beban saja rasanya sudah melayang, apalagi tanpa beban bisa-bisa ak bisa aerwalk kayak MJ. MJ itu Meikel Jordan loh, bukan Meikel Jackson, kalau Meikel Jackson kan monwalk. Tapi mungkin kalian dah tahu ya..hehe.

"Glegek.....Glegek," tiba-tiba ak bersendawa. Tunggu dulu, "melayang" itu bagus tapi " melayang dan bersendawa" ini tidak beres. Ak kenal tanda-tanda ini. Ini pertanda mau semaput alias pingsan. Wah gaswat. Mungkin ak terlalu memaksakan diri. Harusnya cukup ½ km aja larinya tadi. Jangan sampai ak lihat bintang-bintang. Itu adalah fase terakhir sebelum ak hilang kesadaran. Ak lalu duduk, selonjor kaki, memulihkan kesadaranku. 5 menit-an, ak merasa sudah kembali seperti biasa . Ak lalu berjalan lagi, tapi rasa melayang itu kembali dan langit mulai samar terlihat bintang . Sial!!

Dengan pandangan samar, ak melihat di depanku, sepuluh langkah dari tempatku berada. Ada seorang ibu sedang membeli makanan kecil di gerobak pinggir jalan. Ak melihatnya dari samping. Agak gemuk, usianya separuh baya, memakai celana dan kaus merah motif bunga-bunga.Dari isyarat gerak-gerik dan perawakannya, ak menyimpulkan itu ibuku. Terima kasih Tuhan. Ak selamat. Ak bisa mbonceng ibuku pulang. Dengan langkah cepat (takut kalau pingsan duluan) kuhampiri ibuku. Ak berhenti sejenak di belakangnya lalu dengan amat percaya diri kutepuk bahunya.

Ibu itu menoleh.

Menatapku dengan heran.

Ak tidak mengenalnya.

Ak terkejut, seraya menjerit dalam hati, "Loh kok bukan Ibuku?" .

GASWAT!!!

Sontak ak mengatupkan kedua telapak tanganku, menggerak-gerakkannya seperti menari Tor-Tor dan berucap, "Maaf Bu, saya kira Ibu saya. Maaf. Maaf!". Dengan muka lempeng dot com, ibu tersebut menghadap lagi ke penjual makanan. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ak lalu dengan langkah cepat pergi dari situ. Ajaib. Langit cerah kembali, bintangnya hilang. Rasa melayang berganti dengan malu bukan kepalang. Kalau saja ada lubang galian kabel, ak ingin nyemplung saja di dalamnya.

Kulihat jam di pos satpam pinggir jalan--ak ndak biasa pakai jam tangan, biasanya lihat jam di HP..dan ketika joging ak ndak pernah bw HP..ribet soalnya.-- Jam 6 kurang seperempat. Pantas. Ibuku memang tiap pagi beli sarapan dan makanan kecil tapi jam 6 lebih biasanya ia berangkat. Rupanya daya nalarku hilang sementara tertutup rasa melayang.

Tapi ak bersyukur, selain karena tidak jadi semaput, ak tidak diteriaki sebagai pelaku hipnotis metode cablek alias tepuk. Untung saja cuma kutepuk, kalau sampai kurangkul tadi. Wah bisa dihakimi massa, disangka sebagai pelaku pelecehan seksual. Amat memalukan karena korbannya adalah ibu separuh baya (padahal sama memalukannya kalau korbannya gadis muda...hehe). Bisa dianggap pengidap Oedipus complex dan masuk koran dengan headline "Pelecehan Seksual di Pagi Hari Oleh Seorang Oedipus Complex". Lebay..haha

Memang segala sesuatu itu harus bertahap, tidak boleh memaksakan diri di luar batas kemampuan (dalam kasusku fisik) kita. Kalau memaksakan diri, bukannya sehat malah sakit dan malu jadinya jyahaha...(Tertawa terus menutupi malu ...Huft) .